Kamis, 26 Oktober 2017

JIHAD DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

 Islam adalah spirit kreatif dan reformatif. ajaran tauhid yang diserukan nabi muhammad terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan universal dan keadilan yang dijujung tinggi, di dalamnya mencerminkan akan ketidakadaannya faham fundamentalis, radikal dan ekstrimisme.Namun belakangan ini, isu-isu tentang islam begitu buruk dimata kancah internasiaonal, tak lain karena banyak dari kalangan islam sendiri yang mengaku dirinya paling benar sehingga mempropaganda kaum awam untuk membuat tindakan ekstrimisme yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islam itu sendiri. Contoh kecilnya , adanya bom bunuh diri yang sudah bertebaran dimana-mana dengan mengatas namakan JIHAD . Padahal disana tidak ada prinsip humanisme , justru merugikan tatanan sosial masyarakat. Oleh karenanya, pemaparan tetang jihad ini sangat penting untuk menepis rasa penasaran dalam memahami hakikat jihad itu sendiri. kesalahpahaman maupun penyempitan makna yang cendrung mendorong tindakan kekerasan, hal ini didasari pemahaman atas wahyu-wahyu Alquran tentang jihat yang turun pada periode mekah yang berorientasi dakwah, sementara ayat-ayat  jihad periode madinah berorientasi perang, seperti ayat-ayat jihad dalam surah al-Anfal dan at-Taubah. Namun ayat-ayat jihad madinah dipandang menghapus ayat-ayat jihad periode Mekah.
Jihad dalam bahasa arab merupakan bentuk kata jadian[ masdar].dari kata jahada-yujahidu-jihadan-mujahadatan. Adapun kata dasarnya  adalah jahada-yajhadu-jahdan/juhdan yang berarti kekuatan. Penyusun lisanul-arab misalnya mengartikannya dengan kesungguhan/kesulitan dan kepayahan atau mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan, baik ucapan maupun perbuatan. Dalam bahasa kontemporer, hal ini biasa di artikan dengan istilah perang. Perang berarti mengangkat senjata yang dilakukan oleh dua kubu baik masalah suku, ras, etnis maupun yang menyangkut negara sekalipun.
Dalam alquran sendiri, jihad disebut sebanyak 41 kali dan tersebar dalam 19 surat, didalamnya mengajarkan perjuangan [berjihad] bagi kaum muslimin dalam menjaga terlaksananya dakwah islam dengan aman, menjaga kebebasan beragama dengan tenang, atau untuk membalas serangan dalam pembelaan diri. Namun islam tidak serta merta memerintahkan kaum muslimin untuk langsung berperang melawan kaum musyrik dan kafir melainkan menunggu fase yang panjang menuju peperangan , dimulai dari perintah untuk bertahan dalam berdakwah dengan prinsip sabar  dan pemberian maaf atas kesalahan  kaum kafir disaat mereka menghalangi dakwah dan bahkan dalam kasus penyiksaan yang dialami kaum muslimin . sampai kepada perintah perang melawan kaum kafir pada tahun kedua Hijriyah. Ini merupakan konsep perjuangan yang diajarkan dalam alquran yang mencerminkan paradigma yang sangat strategis, ini bisa dilihat dari kronologis proses turunnya alquran, mari kita simak surah athur [52]:48 yang artinya Dan bersabarlah [muhammad] menunggu ketetapan tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan kami “ ketika itu, Allah belum mengizinkan kaum muslimin untuk membalas kejahatan dengan tindakan serupa. Justru Allah memerintahkan untuk membalasnya dengan kebaikan. Alloh berfirman,” tolak perbuatan buruk mereka dengan [cara] yang lebih baik. kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan [kepada alloh].”[al-Mu’minun [23]:96].Lebih tepatnya jihad pada saat itu adalah berjihad dengan alquran, hujah,dan bukti yang kuat. Allah berfirman,”......dan berjuanglah terhadap mereka dengan [alquran]dengan [semangat] perjuangan yang besar.” [al-Furqon [25] 52 ].
Akan tetapi, ketika azab yang terima oleh kaum muslimin semakin menjadi-jadi, siksaan datang bertubi-tubi hingga mencapai puncaknya, maka Rasul pun hijrah ke madinah dan memerintahkan sahabatnya untuk turut hijrah bersama beliau setelah tiga belas tahun Rasul saw. diutus .
Di kota Madinah yang menjadi ibu kota baru Bagi kaum muslimin, mereka baru diizinkan untuk berperang selama mereka diserang lebih dahulu. Mereka terpaksa menjadikan pedang sebagai solusi demi membela diri. Dan hal itu sebagai  jaminan atas keamanan dalam menda'wahkan agama Allah swt. Ayat tentang peperangan yang pertama kali diturunkan oleh Allah swt.adalah yang artinya “Diizinkan [berperang] bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya meraka didhalimi........” [al-Hajj [22]:39-41].  
Yang pada akhirnya, pada tahun kedua hijrah Nabi ke Madinah, Alloh telah mewajibkan jihad dengan firmannya yang artinya “ Diwajibkan bagi kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. tetapi, boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu.dan boleh jadi itu baik bagimu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”[al-Baqarah [2]: 216].
             Terlepas dari itu semua, Konsep jihad [perjuangan] yang diajarkan alquran sangat dinamis dan mengajarkan akan pentingnya spirit berfikir dalam mengambil keputusan, menelisik pertimbangan yang mendalam dan tidak menafikan adanya kondisi sosial, politik dan budaya yang cenderung disepelekan.
            Melihat dokumen sebab turunnya ayat-ayat jihad, Muhammad Chirzin dengan mengutip Salman al-Audah, membagi secara kronologis ayat-ayat menjadi empat fase. pertama, tahanlah tanganmu [ini terjadi pada ayat-ayat yang turun di mekah]. kedua, telah diizinkan berperang bagi yang diperangi. fase ketiga, perangilah dengan tujuan menegakkan hukum tuhan. Dan yang keempat, perangilah semua lawanmu [kafir, musyrik, murtad dan munafik].
            Ironisnya,di zaman sekarang ini banyak interpretasi alquran yang ditelan mentah-mentah didasari paradigma pemikiran yang sempit sehingga muncullah pemikiran  yang sangat fundamental yang cenderung ekstrim. Dan diperkeruh oleh datangnya terorisme. Kebanyakan konsep jihad yang dipakai mereka menjustifikasikan ayat-ayat Madaniyah dan mengapriorikan  ayat-ayat mekah.
Terorisme merupakan spektrum terbaru yang dipakai oleh orang western untuk di tujukan kepada umat islam, tak lain karena  efek yang terjadi pada 11 Sepetember 2001 di WTC Amerika. Padahal gelar terorisme tidak pantas disandang oleh umat islam yang notabena ajaran islam sendiri mengajarkan prinsip Rahmatan lil alamin. Memang sebagian dari umat islam sendiri yang memaksakan ayat untuk dijadikan dalil supaya sesuai dengan keinginannya belaka.
Padahal kalau kita pahami bersama konsep teror yang dicanangkan oleh para terorisme bukan solusi yang baik dalam menegakkan kalimat allah.


           




Tidak ada komentar:

Posting Komentar